Minggu, 30 Desember 2012

Mahasiswa dan diskusi

Kenangan ketika masa kuliah, di fakultas psikologi disebuah universitas yang cukup ternama di kota Surakarta. ketika itu matakuliah filsafat manusia yang kebetulan diampu oleh seorang dosen yang dikenal dengan sufi dan cakap berfilsafat.
Yang cukup menarik kala itu membahas materi tentang fungsi akal. Singkat cerita, sang dosen menjelaskan panjang lebar tentang akal dan fungsinya, dan pada kesimpulan bahwa "akal hanya berfungsi untuk memilih". Dalam hati "kok begitu sederhananya fungsi akal, jika hanya sekedar bermemilih saja?"
Saya mencoba memberanikan diri untuk mengacungkan tangan untuk bertanya,
setelah diberikan kesempatan oleh sang guru, saya pun segera menanyakan apa yang menjadi pertanyaan dalam hati saya tersebut, "maaf pak, selain berfungsi untuk memilih adakah fungsi yang lain?", "kok kesannya sederhana sekali, padahal akal inilah yang menjadikan perbedaan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain?" alasanku,
Sang dosen menjawab "memang sederhana, dan begitu adanya"
"wah, masa seperti itu pak? hewan saja juga memilih, berarti berakal juga?" tambahku
"hewan tidak berakal, tapi memilih dengan insting", jawab sang dosen
semakin penasaran nih...
"berarti, akal sama dengan insting pak?" tanyaku lagi
"tidak" jawab sang dosen
"lalu?" saya coba mengejar argumen sang dosen

seketika saya di colek kakak tingkat (aktifis kampus) dan membisikkan "jangan terlalu kritis! nanti nilaimu kecil"
saya jawab dengan lirih ke kakak tingkat tersebut "biarin aja nilai kecil, dapat nilai A juga gak apa"
kakak tingkat menjawab lirih "A? A...mbil lagi tahun depan (ngulang-red)?"
"iya hehehe..." jawabku sambil agak nyengir
"nekat..."jawab kaka tingkat

Sang dosen justru hanya mengulang pernyataan bahwa " ya memang itulah fungsi akal manusia hanya untuk memilih"
"wah, kalo seperti itu cukup jelas kalo manusia sama dengan hewan, lalu bagaimana pernyataan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir?" tanyaku lagi
Sang dosen pun menjawab "memang itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, yaitu akal untuk berpikir, dan cara berikir manusia ada dengan memilih"
karena jam kuliah sudah hanpir selesai sayapun memberanikan diri untuk berargumen,
"maaf saya kurang sepakat dengan fungsi akal yang jika hanya untuk memilih saja"
"lalu" kejar sang dosen
"pasti ada yang lain selain untuk menjadikan akal untuk memilih saja dan menjadikan akal istimewa, yang menjadikan berbeda antara manusia dengan makhluk ciptaan yang lain, yaitu berpikir dengan merencanakan. makhluk lain tidak membuat rencana"
Sang dosen menjawab dengan enteng " ya itukan fungsi akal menurut pikiranmu"
(dan diskusi kami terhenti karena bel akhir jam kuliah sudah berbunyi.)

Dari diskusi tersebut, saya pribadi (mencoba berikir positif) bahwa sang dosen memberikan stimulus untuk para mahasiswa berpikir, apalagi mata kuliahnya adalah mata kuliah filsafat. sayang sekali diskusinya tidak begitu hidup, karena hanya kami berdua yang berpendapat (mungkin kesanya malah eyel-eyelan), jadi tidak ada argumen dari pihak lain. Saya menyayangkan sang dosen tidak meminta pendapat dari (mahasiswa) yang lain, sehingga diskusi bisa hidup dan lebih beragam pendapat serta argumen yang didapat. yuk, agent of change...be true agent of change! jangan cuma jadi mahasiswa yang koar-koar dalam demo, tapi pasif dalam diskusi ilmiah, kudu seimbang!

Kamis, 27 Desember 2012

Anakku Keajaibanku

Sampai tahun 2008 saya masih melakoni hobi sebagai pekerjaan saya, yaitu sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pelatihan, kalo istilah kerennya sih menjadi seorang trainer.
Ketika itu ada event pelatihan yang kebetulan outbond, jadi selama hampir satu minggu saya menyiapkan, dari persiapan materi dan persiapan tim fasilitator sampai persiapan alat bahkan pemasangan alat untuk beberapa permainan dalam outbond. Dari proses persiapan lumayan menguras pikiran dan tenaga.

Hari H pelaksanaan outbond sekian puluh peserta alhamdulillah berjalan lancar, meskipun begitu menikmati pelaksanaan outbond ini namun begitu menguras tenaga, cuapek!
Seusai pelaksanaan kami, tim merasa hal yang sama kecapean. dalam pikiran saya "wah, bakalan ada balas dendam nih, tidur sepanjangan untuk memulihkan badan supaya fit kembali. Dalam perjalanan pulang badan semakin lelah (perjalanan pulang kami tempuh bermotor kurang lebih 1,5 jam dengan motor). dalam hati serius nih, gak bakal sempet mandi...langsung tepar di kasur!

Sampai di basecamp, kami sempat menyimpan alat-alat outbond (rapi sedikit jadi, yang penting sudah tersimpan). dan langsung pulaaang... ke rumah.

Selama perjalanan menuju rumah, dalam pikiran masih hal yang sama seolah-olah ada paduan suara yang menyuarakan "kasur! kasur!,kasur!"

"Wah tikungan terakhir (masuk lorong ke rumah saya), akhirnya kasur semakin dekat" gumam saya.

Subhanallah, sebuah keajaiban!
Sesampai di rumah, setelah mendengar suara merdu anak berusia 1,5 tahun menyapa, rasa ngantuk, lelah, capek apalah kata lain yang sama dengan itu, dengan tiba-tiba serasa dicabut dari badan ini. Badan menjadi segar kembali (meskipun wajah masih gosong bekas sengatan sinar matahari). Tidak lagi menyentuh kasur, tapi malah bermain, berlari-lari, berguling-guling dengan anak yang berusia 1,5 tahu tadi, yang tidak lain adalah anak saya Tazkya Alfi Humaeda yang biasa kami panggil dengan CINTA.

Keajaiban ini benar-benar saya rasakan, mungkin karena ada kekuatan yang lebih besar yaitu rasa kasih sayang kepada anak kita atau keluarga kita, maka kekuatan negatif (rasa capek, lelah dan ngantuk) tadi hilang.

Ternyata hal yang sama didapat oleh orang tua- orang tua lainnya, ketika hal ini pernah saya share ke beberapa rekan yang juga sudah berkeluarga.

Subhanallah, keajaiban itu nyata!
Yuk, tetap menjadi keajaiban bagi orang tua kita!


Rabu, 26 Desember 2012

Orang Tua, Bintang Multi Talent Bagi Anak

Pendidikan utama bagi seorang anak adalah di keluargannya, dan guru utama bagi anak adalah orang tuanya. Hal yang sering terlupakan bagi pasangan yang akan menikah adalah, menyiapkan diri menjadi pendidik bagi anak-anaknya.
Bukan sekedar Rumah, tapi tempat membangun fondasi kehidupan anak-anaknya
bukan sekedar mobil, tapi kendaraan untuk mengantarkan anak-anaknya mencapai cita-citanya
bukan sekedar Orang tua, tapi sahabat bagi anak-anaknya

           menjadi kompas ketika anak dalam kebingungan
           menjadi tempat bersandar ketika anak dalam kelelahan
           menjadi per pelontar ketika anak ingin maraih yang lebih tinggi
           menjadi air ketika anak dalam panas marah
           menjadi api untuk menyulut semangat anak-anaknya
           menjadi model bagi gambaran kehidupan anak-anaknya